Artikel

URGENSI PERCAYA DIRI (SELF CONFIDENCE)

Tidak ada yang bisa dilakukan secara maksimal tanpa kepercayaan terhadap diri. Seseorang yang memiliki rasa percaya diri, bersungguh-sungguh dan yakin akan usahanya tersebut, tidak terlalu lama berfikir tentang dampak yang bisa membuatnya menunda-nunda sesuatu yang seharusnya dilakukannya. Penulis tidak mengatakan bahwa kita tidak perlu berfikir sebelum melakukan sesuatu, tapi jangan membuat sebuah situasi dimana pikiran tersebut mengganggu, menunda, bahkan membatalkan hal yang sedianya kita bisa atau seharusnya kita lakukan. Bukan tidak peduli buruk-tidaknya efek yang ditimbulkan, tetapi setidaknya kita sudah memberikan kepercayaan terhadap diri untuk melakukan usaha dengan semaksimal mungkin. Karena pada dasarnya, yang penting adalah proses, bukan hasil.
Di sisi lain, kita tidak boleh menafikan kewajiban untuk senantiasa bertawakal. Memasrahkan diri dengan menyerahkan segala urusan kepada-Nya.

Karena segala urusan itu seharusnya disandarkan kepada-Nya.

Dan ini sama sekali tidak bertentangan dengan perintah untuk senantiasa percaya diri di setiap amal atau perbuatan yang kita lakukan. Segala situasi mempunyai peluang yang hampir sama untuk mendapatkan terpaan badai yang berupa hambatan, rintangan, maupun segala macam kendala. Namun setiap kali badai itu datang, kita seharusnya tidak segera pesimis terhadap apa yang kita miliki. Melainkan, yang harus dilakukan adalah bersegera menganalisa kesalahan maupun kekurangan, memperbaiki, membenahi diri (muhasabah), dan melakukan evaluasi terhadap hal-hal yang telah dan akan dilakukan.
Jangan pernah berkata pada diri “Ah, begini mentongkaji kasian saya” atau “tidak ada memangji je’ saya kemampuanku di bidang itu” dan kalimat pesimistis lain yang serupa dengannya. Memang terkesan sangat sederhana, tetapi kalimat-kalimat tersebut mempunyai power yang sangat besar untuk mengubur dalam-dalam potensi yang dimiliki seseorang. Bahkan kalimat “saya tidak bisa” seharusnya tidak pernah terucapkan dari bibir seseorang. Tentunya hal tersebut tidak berarti bahwa bersikap acuh tak acuhlah terhadap kemampuan diri karena kita tetap harus pandai-pandai mengukur berbagai kemungkinan yang terjadi. Hanya terbersit seuntai kalimat super dari seorang bijak bahwa “berfikirlah bisa maka kamu akan bisa”.
Larangan untuk berputus asa (senantiasa percaya diri) tercermin dalam firman-Nya: Al-Hijr ayat 55, Allah berfirman:
???????? ??????????? ??????????? ???? ????? ????? ??????????????
Artinya: “Mereka menjawab: "Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, Maka janganlah kamu termasuk orang-orang yang berputus asa".
Bahkan dalam ayat yang lain Allah menyetarakan orang-orang yang memiliki sikap putus asa dengan orang-orang yang kafir
???? ????????????? ??? ?????? ???? ? ??????? ?? ?????????? ??? ?????? ???? ???? ?????????? ??????????????
Artinya: “Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir". (QS. Yusuf: 87)
Kita bisa belajar dari orang-orang sukses yang tentunya memiliki kepercayaan diri sehingga bisa mengembangkan potensi sedemikian rupa untuk mencapai kesuksesannya itu. Dan hal yang yang tidak bisa dinafikan bahwa pastilah mereka menggapainya bukan tanpa rintangan atau kendala yang dihadapi. Mereka hanya bertahan, konsisten, dan lebih memperbaiki celah-celah kekurangan yang mereka temukan lewat berbagai tempaan yang mendera.
waLLahul musta’an

PERPUSTAKAAN STAIN PAREPARE PUSAT INFORMASI DAN PENGETAHUAN

Organisasi Mahasiswa

ANIMASI ( Aliansi Mahasiswa Seni ) STAIN Parepare

BEM

BEM ( Badan Eksekutif Mahasiswa )

KSR-PMI ( Korps Sukarela -Palang Merah Indonesia ) Unit Stain Parepare

Artikel